Penemuan Katak Harlequin

Dari 10 spesies yang berada di tempat teratas daftar amfibi yang hilang, ada satu katak yang ditemukan kembali di Ekuador. Para ilmuwan memperkirakan lebih dari 30 persen amfibi menghadapi kepunahan akibat jamur yang menyebar di seluruh dunia selama 10 tahun belakangan. Selain itu, kepunahannya juga dikarenakan ada tekanan dari hilangnya habitat dan perubahan iklim.

Ahli hewan amfibi di Conservation International mengatakan akan secara seksama meneliti bagaimana spesies yang ditemukan kembali itu bertahan hidup. Kemungkinan katak yang mampu bertahan hidup itu agak kebal terhadap penyakit yang memusnahkan sangat banyak spesies, baik karena daya tahan genetiknya atau mereka memiliki bakteri menguntungkan yang bisa melawan penyakit itu.

Kemampuan spesies ini untuk bertahan memberikan jalur penelitian baru pada para ilmuwan. Di India, para peneliti menemukan lima spesies di wilayah Ghats Barat. Di India, para peneliti menemukan lima spesies di wilayah Ghats Barat. Salah satu spesies, Chalazodes Bubble-nest frog, terakhir kali terlihat pada 1874. Katak ini aktif di siang hari di bawah alang-alang dan berwarna sangat cerah. Chalazodes Bubble-nest frog terakhir kali terlihat pada 1874.

Chalazodes Bubble-Nest Frog

Di Ekuador, para peneliti menemukan katak harlequin atau katak Rio Pescado stubfoot untuk pertama kali sejak tahun 1995. Namun ilmuwan yang menemukannya mengkhawatirkan masa depan spesies itu karena hewan tersebut berada di tempat yang tak terlindungi di dataran rendah Pasifik.

Harlequin Frog

Selain memiliki nilai budaya dan keindahan, amfibi memiliki peranan penting dalam ekosistem dengan cara memangsa serangga yang merusak tanaman. Hilangnya hewan amfibi, bisa menyebabkan kemerosotan kualitas air, peningkatan tanaman ganggang dan pengendapan. Amfibi juga memiliki kaitan dengan kehidupan air & daratan, dan menjadi sumber makanan buat hewan mamalia, reptil serta burung.  Dari 10 spesies yang berada di tempat teratas daftar amfibi yang hilang, ada satu katak yang ditemukan kembali di Ekuador. Para ilmuwan memperkirakan lebih dari 30 persen amfibi menghadapi kepunahan akibat jamur yang menyebar di seluruh dunia selama 10 tahun belakangan. Selain itu, kepunahannya juga dikarenakan ada tekanan dari hilangnya habitat dan perubahan iklim.