Hognose, Si Hidung Babi
Karakteristik Hognose yang paling membedakannya dari ular lain adalah moncongnya, bentuknya agak ‘monyong’. Moncong ini digunakan hognose untuk menggali di tanah dengan gerakan menyapu. Moncongnya juga berfungsi untuk mencari katak yang terkubur di tanah yang menjadi makanan utamanya. Ular hognose sangat suka mengubur diri di tanah basah yang ditutupi humus.
Kalo bicara soal warna, ular hognose sangat bervariasi dalam hal warna & pola/pattern. Hognose nasicus dan Hognose kennerlyi cenderung memilik wana kecoklatan seperti tanah dengan marking hitam dan putih. Warna Hognose platirhinos bervariasi dari merah, hijau, orange, coklat hingga melanistik tergantung dari lokalitinya. Hognose kadang berwarna buram dan kadang nberwarna solid. L. geayi adalah ular berwarna coklat dengan bercak gelap. L. madagascariensis biasanya berwarna hijau & kuning dengan pola papan catur berwarna hitam di punggungnya. L. modestus normalnya berwarna coklat keemasan. Fase perubahan warna mencakup kuning dan coklat hingga coklat ke hitam atau abu abu. Species pada genus Lystrophis mengacu pada ular tri-color hognose yang tampak seperti ular coral karena mereka berwarna merah putih & hitam.
Leioheterodon adalah jenis hognose yang terbesar, karena bisa mencapai panjang hingga 1.8 meter. Jenis H. platirhynos sedikit lebih besar dari spesies lain dari genus ini, panjangnya mencapai 80 cm. Spesies lain dalam genus ini, termasuk Lystrophis biasanay memiliki panjang sekitar 65 cm saat dewasa.
Ular hognose (Heterodon) adalah ular yang memiliki taring yang terletak di belakang dan secara teknis tidak beracun. Tapi, air liur yang dikeluarkan dianggap racun/bisa untuk mangsa & tidak dianggap berbahaya untuk manusia. Ular hognose tidak akan pernah menggigit untuk memperthankan diri. Jika digigit hognose, satu satunya kemungkinan adalah bagian yang tergigit berbau seperti mangsa (misalnya: sehabis memegang mencit & tidak mencuci tangan, bau mencit akan menempel pada tangan).
Banyak pro dan kontra yang memperdebatkan apakah hognose berbisa atau tidak. Untuk saat ini, terbukti bahwa air liur hognose memilik zat racun yang digunakan untuk mangsa mangsa yang kecil sepertyi katak. Taringnya hanyalah ‘gigi yang membesar’, tapi berfungsi seperti taring asli yang menahan mangsanya. Berbeda dari keyakinan yang beredar, tidak ada bukti yang mendukung bahwa taring hognose digunakan untuk ‘meletuskan’ katak. Di bawah keyakinan ini, katak mengembangkan paru paru mereka untuk mempersulit ular menelan mereka, tapi taring ular akan menusuk paru paru & mengempeskan katak. Bagaimanapun juga, seekor katak dengan paru paru yang utuh biasanya akan dimuntahkan oleh hognose yang baru ditangkap.
Kalo ngerasa terancam, ular hognose akan menggepengkan lehernya dan mengangkat kepalanya dari tanah seperti ular kobra dan mendesis. Kadang hognose juga berpura pura akan menyerang, tapi cenderung tidak menggigit. (Kelakuan hognose ini membuatnya dijuluki puff adder, blowing adder, flathead, spread head, spreading adder atau hissing adder. Catatan: julukan puff adder hanyalah sekedar julukan, karena ada jenis ular yang bernama Puff Adder dari Afrika yang sangat berbisa). Jika ancaman hognose ini tidak berhasil untuk menghalangi predator, ular hognose akan berguling dan berpura pura mati. Jugamengeluarkan bau yang sangat menyengat & mengeluarkan kotoran dari kloakanya, sambil menjulurkan lidahnya. Kadang kadang malah mengeluarkan beberapa tetes darah. Saat hognose telentang, mereka akan berguling untuk meyakinkan musuh kalau mereka benar benar mati. Walaupun berpura pura mati, ular hognose akan terus mengawasi musuhnya. Hognose akan ‘bangkit’ dari kematiannya segera setelah musuh yang mengancamnya berpaling dari hognose.
Heterodon aktif pada siang hari dan memangsa makanannya hidup hidup tanpa pembelitan atau body pinning. Kebanyakan hognose memangsa binatang pengerat dan kadal. Kecuali H. platirhinos yang memangsa katak walaupun telur, serangga, dan tikus juga mewakili 50% dari menunya.
Ular hognose sering ditemukan di toko binatang yang menjual binatang peliharaan eksotis. H. nasicus disebut sebut sebagai jenis hognose yang paling mudah dipelihara. H. platirhinos juga mudah didapat, tapi menu makanannya bisa sedikit merepotkan, karena ada beberapa penelitian yang membuktikan bahwa member makan binatang pengerat ke ular ini bisa menyebabkan masalah hati dan memperpendek umur H. platirhinos.
Spesies leioheterodon diimpor dari Madagaskar, jarang dikemabng biakkan di penangkaran dan bisa tumbuh lebih besar dibandingkan spesies lainnya, jadi bisa menimbulkan tantangan yang berbeda untuk dipelihara.
Spesies lystrophis terhitung baru dalam perdagangan reptile, sudah mulai banyak yang menangkarkannya dan bisa jadi harganya sedikit lebih mahal dari hognose jenis lain.
Perlu diingat, walaupun hognose tidak membahayakan hidup manusia, hognose memiliki potensi untuk melukai manusia. Karena bisa mengakibatkan pembengkakan & mati rasa pada daerah yang tergigit, dan ini bisa bertahan hingga 3 hari. Gimana? Tertarik memelihara hognose?
Posted in Informasi Umum | No Comments »











