Fungsi Ekor Kadal Agama

Penelitian tentang kadal kepala merah agama (Agama agama) yang dipimpin oleh Robert Full dari Universitas California di Berkeley telah merekam perilaku spesies yang sering juga disebut kadal lompat tersebut. Hasil rekaman menunjukkan bahwa kadal Agama ini memiliki perilaku yang unik dan lucu. Saat melompat dari permukaan horizontal ke dinding yang vertikal, kadal ini selalu membengkokkan ekornya ke atas. Ekor kadal agama ini baru turun saat kadal sudah mendarat di dinding. Continue reading “Fungsi Ekor Kadal Agama”

Kadal baru yang diciptakan di laboratorium

Campur tangan manusia telah menciptakan spesies baru dari kadal whiptale yang tidak hanya mampu bertahan hidup tapi juga berhasil berkembang biak dan hingga kini mencapai generasi ke empat. Sekelompok peneliti genetika sukses menciptakan spesies kadal baru dengan mengawinkan dua spesies yang berbeda dari Kadal Whiptail Amerika Utara.

Kadal whiptail sudah berevolusi menjadi spesies baru disebabkan karena perkawinan antar spesies beberapa ratus ribu tahun yang lalu, tapi sekarang sebuah kelompok peneliti genetika di Kansas menciptakan spesies baru di dalam laboratorium mereka.

Tim yang dipimpin oleh Peter Baumann dari Stowers Institute for Medical Research ini melakukan percobaan dengan mengawinkan dua spesies yang berbeda dari kadal whiptail America Utara (spesies yang berasal dari New Mexico). Mereka memasangkan sperma haploid dari Aspidoscelis Inornata (kadal whiptail kecil bergaris) dengan  oocytes triploid dari parthenogenetic A. exsanguis  (kadal Chihuahuan spotted whiptale).

Peerkawinan ini menghasilkan 6 butir telur yang kesemuanya menetas. Kadal betina muda mirip dengan induknya, kecuali warna biru pada ekornya, karakteristik ini diambil dari induk jantan. Tiap kadal memiliki 4 copy dan bukan 2 copy dari gen orangtuanya–tiga dari induk betina dan satu dari induk jantan.

Biasanya jika spesies baru diciptakan, bayi spesies baru ini akan memiliki sifat tidak subur atau terlalu lemah untuk bertahan hidup. Tapi tetraploid, semua spesies betina berkembang biak dengan cara bertelur yang tidak perlu lagi dibuahi yang artinya telurnya sudah termasuk dalam cloning induk betinanya.

Kadal yang pertama sudah bertahan dan berreproduksi hingga memiliki keturunan. Kadal ini sekarang sudah mencapai generasi keempat tapi sampai saat ini kadal spesies baru ini belum diberi nama. Baumann ragu-ragu untuk menamai spesies ini karena spesies ini belum memiliki kesempatan untuk bertahan hidup di luar laboratorium walaupun anggota tim yang lain percaya kadal ini mampu melakukannya.

Para peneliti berharap spesies baru kadal ini akan menjadi alat penting dalam memahami mekanisme yang mendasari asal-usul dan evolusi amniotes aseksual.